Kesurupannya Si Anak Dugem.

Malam yang tenang di tahun 2005, pukul 2 dini hari, terusik dengan kepulangan gerombolan anak remaja yang baru menikmati malam minggu dengan dugem. Agaknya mereka tidak puas dengan hiburan di diskotik yang baru saja mereka nikmati. Rumah kost lantai II di sebuah kawasan cempaka, Jakarta itu mendadak menjadi hingar-bingar. Mereka menstel music disko remix, mereka tertawa cikikikan berjingkrak, bernyanyi dan menari.

Saya yang lagi enak tidur dua kamar di sebelahnya mendadak terbangun. Suara music, jingkrakan, tertawa canda mereka terdengar jelas, mengusik ketenangan gendang telinga saya yang sebelumnya sangat nyaman dengan ketenangan malam.

Rumah kost lantai II yang berjumlah 5 kamar itu baru saya tempati tiga bulan lalu. Saya adalah penghuni pertama di lantai II kost itu dan menempati kamar paling ujung. Sedangkan di lantai I yang berisi 6 kamar sudah tersisi semua. Di Bulan kedua saya tinggal di sana anak-anak remaja yang mengaku sebagai lady escort dan sales kosmetika itu datang berombongan dan menghuni 3 kamar. Satu kamar untuk teman mereka laki-laki dan dua kamar untuk perempuan. Masing-masing kamar berisi 4 s.d 5 orang.

Meski kamar itu mereka kontrak dengan atas nama laki-laki dan perempuan, pada prakteknya setiap malam saya lihat mereka tidur campur aduk laki-laki dan perempuan. Bahkan ada satu kamar yang setiap malamnya berisi dua orang saja. Tidak itu saja, bahkan setiap malamnya ketika saya pulang kerja berpapasan dengan mereka yang sebagian lagi nongkrong dan sebagian lagi bergoyang diiringi music, selalu saja saya melihat ada saja wajah baru yang sebaya dengan mereka. Mungkin mereka banyak teman dan berpergaulan luas sehingga ada saja orang-orang yang mereka bawa ke kamar kost itu.

Sementara itu, kalau siang hari saat saya tidak berangkat berkerja –maklum freelance– tidak semua mereka yang berkerja ada satu dan kadang dua orang yang stand by di rumah. Perempuan yang standby ini , terkadang pergi sebentar ke luar akan tetapi baliknya membawa laki-laki yang selalu berbeda setiap harinya. Para tamunya baru pulang kalau teman-temannya yang lain juga sudah pulang kerja di malam hari. Anehnya lagi si tamu sebelum pulang selalu mandi di kamar mandi kost yang tersedia dua kamar untuk melayani penghuni 5 kamar, yang kebetulan kamar mandi itu berada tepat di depan kamar saya.

Begitulah suasananya saban hari. Setiap malam selalu menstel music disco remix yang hentakannya membuaat gendang telinga tidak nyaman. Saya terkadang komplen ke pemilik rumah kost dan bahkan juga pemuda setempat juga merasa terganggu dengan gaya mereka juga pernah melaporkan masalah itu ke pemilik kost. Akan tetapi apa daya. Sang pemilik tinggalnya jauh di belahan Jakarta lain, jadi tidak pernah mengetahui masalah sebenarnya. Pemilik kost datang ke kost itu hanya sebentar saja, itu pun kalau lewat kawasan itu dan menagih bulanan. Ketika suatu kali ia datang, komplen itu tidak dianggap serius.

Saya menjadi resah tinggal di situ, sayangnya saya tidak membayar uang kost per bulan tapi per tiga bulan. Jadi saya sudah membayar lagi untuk tiga bulan ke depannya. Dengan kondisi tersebut menjadi tidak mungkin bagi saya untuk meminta uang kembali. Apalagi pemilik kost yang tinggal jauh dari situ, yang memungkinkan saya sangat repot untuk minta keluar. Pemuda setempat dan warga sekeliling, sempat mau mengambil tindakan anarkis. Akan tetapi karena mereka akrab dan bersahabat dengan saya, mereka menjadi urung mennyampaikan niatnya. Mereka berharap dan hanya mempercayakan kepada saya untuk membantu menegur remaja-remaja modern itu.

Alasan lain, pemuda setempat tidak jadi berbuat anarkis karena mereka mengingat jasa-jasa pemilik rumah. Di mana sebelum rumah kost itu berdiri, di situ berdiri rumah tua peninggalan Belanda yang oleh pemilik rumah dipinjamkan ke pemuda menjadi pusat aktifitas. Di sana pemuda setempat bertahun-tahun latihan sandiwara, tari, nyanyi bahkan fitness. Jasa pemilik rumah itu sangat manis di hati pemuda setempat.

Akan tetapi malam itu music dan suasana sangat berbeda dari malam-malam minggu sebelumnya. Hingar bingar benar-benar mengganggu tidur malam saya. Akan tetapi,…. ya sudahlah, biarkan saja. Saya berfikir kalau dinasehati anak-anak seperti itu tak akan mau mengalah. Mereka hanya mau menang sendiri.
Dalam hati, saya harus mencari cara untuk menasehati mereka, ini adalah ladang amal untuk memberikan kesadaran kepada remaja yang masa depannya masih jauh di depan mata. Saya bertekad akan mencoba menyelami jiwa mereka. Tentu tidak mungkin di malam ini, mungkin besok, karena biasanya kalau hari minggu mereka lebih banyak di rumah. Di samping mereka bangun kesiangan karena semalam begadang. Habis bangun mereka biasa nongkrong di teras depan sambil minum kopi dan dengar music kesayangan mereka.

Besok hari, kalau ada kesempatan saya benar-benar akan berkenalan dengan mereka. Meski sudah satu bulan mereka menjadi tetangga, saya belum pernah bertegur sapa dengan mereka. Salah satu alasannya adalah saya risih berkenalan dengan mereka yang selalu berpakaian minim. Itu bisa membuat perasaan saya tak karuan, di samping keyakinan dengan agama saya membuat saya harus membatasi pandangan dan pergaulan. Tapi kali ini sudah keterlaluan, besok saya benar-benarn menyiapkan dan akan beranikan diri untuk bertegur sapa dengan mereka. Saya akan sampaikan keluhan masyarakat sekitar kepada mereka.

Untuk sementara malam itu, saya pun memutuskan untuk tidur kembali. Sambil meminta pertolongan dan perlindungan Allah SWT saya merebahkan diri ke kasur. Badan yang capek dan mata yang mengantuk membuat saya akhirnya terlelap juga. Musik terus belalu, begitu juga tidur saya.

Baru saja saya memasuki syurganya tidur, tiba-tiba saya dikagetkan dengan gedoran pintu kamar. Saya pun terbangun lagi. Dan segera bangkit ke pintu dan membukanya. Di depan pintu ternyata sudah berdiri tiga orang dari mereka yang tadi asyik dengan dugemnya. Saya tidak mendengar lagi suara music, tertawa dan canda mereka seperti sebelumnya. Saya hanya mendengar seorang wanita berteriak-teriak keras diikuti beberapa lainnya yang menangis.

“Ada apa?” Tanya saya ketika membuka pintu.

“Teman saya kesurupan, Pak,” jawab salah seorang dari mereka.

“Tolong kami Pak. Sudah setengah jam dia kejang-kejang dan bicara ngelantur, kami nggak tahu harus berbuat apa. Memegangnya pun kami kewalahan,” lanjutnya.

“Oh begitu.. duluanlah ke sana, nanti saya menyusul,” jawab saya lagi.

Mereka berlalu. Saya pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wuduk. Setelah itu, dari rak buku samping tempat tidur saya ambil Al Quran, kemudian berusaha untuk menjambangi kamar mereka. Sesampai di kamar mereka….…… Bersambung [Meruqiah Si Ana Dugem]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*