Meruqiah Si Anak Dugem

Saya menghampiri kamar yang dihuni oleh remaja putri yang mengaku berkerja sebagai lady escort dan sales promotion girl (SPG) perusahaan kosmetika itu. Sesampai saya di kamar mereka, saya lihat seluruh perempuan menangis dan para teman lelaki memegangi tangannya. Begitu juga beberapa tamu laki-laki yang wajahnya asing bagi saya, ikut berperan mendampingi mereka.


Tiga orang yang dari temannya yang tadi memanggil saya ke kamar termasuk yang kuat dan tidak terkesan kesurupan seperti teman-teman mereka di dalam kamar itu, hanya saja wajah mereka melihatkan raut kecemasan. Kenapa tidak, 4 wanita –temannya– sekaligus mendadak kejang-kejang dan menangis-nangis. Sedangkan yang satu orang malah berteriak-teriak dan menggelinjang dengan kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh teman-temannya yang sadar.

Melihat suasana itu, saya meminta kepada teman-temannya yang masih sadar untuk memindahkan empat wanita yang menangis ke kamar lain. Saya akan mencoba focus membantu satu wanita yang mengamuk-ngamuk terlebih dahulu. Pakaian mereka yang minim, yang mengganggu pandangan saya , saya minta untuk ditutupi.

Lalu saya bertanya kepada mereka yang sadar, “Siapa di antara kalian yang beragama Islam?”

“Kecuali yang berteriak-teriak, kami semua beragama Islam, Pak. Dia beragama Kristen,” jawab mereka.

Semula saya tidak percaya kalau mayoritas mereka beragama Islam, karena dari tingkah polah mereka selama ini, saya tidak melihat sedikitpun akhlak Islami yang mereka tunjukan. Mereka hidup glamour, tidak peduli mahram atau bukan, menyetel music dengan tidak mempedulikan tetangga yang terganggu, membawa tamu laki-laki ke kamar dan tidur bersama. Sungguh saya tidak menyangka.

“Baiklah, yang masih sadar tolong mengambil wuduk dan perempuan yang berada di kamar ini tolong menutup aurat, kalau kalian muslim tentu kalian tahu mana yang aurat,” ungkap saya.

Tanpa basa-basi semua yang ada di kamar itu bersegera mengambil wuduk dan perempuannya menutup aurat. Lalu saya bertanya kepada mereka,

“Yang saya tahu untuk mengobati kesurupan ini, adalah dengan membacakan Al Quran kepada si sakit. Akan tetapi saudara kita ini beragama Kristen apakah Dia akan rela nantinya?”

“Nggak apa-apa, Pak.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Ia juga sudah lama tidak ke Gereja, dan bahkan sering curhat ke kami ingin masuk Islam, karena seluruh saudaranya sudah masuk Islam. Di samping ibunya yang telah bercerai dengan bapaknya yang masih kristen, termasuk dia sebagai si bungsu yang satu-satu beragama Kristen. Ia pernah utarakan ke ibunya ingin masuk Islam tapi ibunya melarang, karena dia satu-satunya pewaris keluarga dan harus mempertahankan keyakinannya,” lanjut temannya lagi.

“Baiklah kalau begitu,” jawab saya, “mari kita mulai.”

Saya mengeluarkan mushaf Al Quran dari saku baju dan mencoba menghampirinya. Ia langsung mengamuk dan melontarkan teman-teman yang memegangnya. Dia terlepas dan membelalakan matanya yang merah kepada saya. Namun sambil mundur dan menghentakkan kakinya, mencoba menendang saya.

Saya tidak peduli dengan sikapnya, sambil mohon perlindungan si raja ghaib Allah SWT, saya mulai membacakan Al Quran. Ia makin mengamuk, tapi tak mendekati saya malah mundur ke sudut kamar, sambil berteriak:

“Siapa kamu, mengapa kamu di sini.”

Melihat amukan itu teman-temannya yang tadi berada di sampingnya lari ke belakang saya. Entah apa yang mereka rasakan. Mungkin mereka takut atau cemas melihat temannya yang matanya terbelalak dan berwarna merah. Sesekali si saki menggerakan kaki dan tanganya meninju dinding serta menghentak lantai. Terkadang ia berguling kiri dan kanan sambil kedua tangan mengepal tinju lurus ke atas kepala.

Reaksi itu saya biarkan, saya terus melafalkan Al Quran, sampai suatu ketika ia berteriak lagi dengan keras:

“Panas… Panas….Panaaaaaas. Cukup-cukup,”

Saya pun menghentikan membaca Al Quran sejenak. Lalu mencoba berkomunikasi dengannya:

“Siapa kamu yang memasuki tubuh anak ini?”

“Saya Nur Hasanah Binti Ibrahim,”

“Agamamu apa?”

“Yahudi”

“Kenapa kamu masuk ke tubuh anak ini?”

“Ini rumah saya, mereka menggangu rumah saya. Mereka brisiiiikk.”

“Kamu harus keluar dan pergi ke alammu. Nanti saya sampaikan kepada penghuni sini untuk tidak brisik.”

“Tidak, saya tidak mau keluar. Saya harus menghukumnya”

“Kalau begitu saya akan baca Al Quran lagi.”

Saya hentikan komunikasi, dan saya terus membacakan Al Quran. Ia mengelinjang dan terus berteriak kepanasan. Sampai akhirnya, Ia pun mengalah dan meminta saya berhenti membaca. Ia akan pergi dan pamitan.

Subhanallah. Tubuh si perempuan tadi yang awalnya kejang mendadak lemas. Ia merosot ke samping dan terkulai. Saya mencoba memastikan Nur Hasanah tidak berada di dalam tubuhnya lagi dengan meminta segelas air putih yang kemudian saya bacakan Al Quran dan saya minta tolong temannya yang perempuan mengusapkan ke wajahnya.

Awalnya teman perempuan itu ragu dan takut mendekatinya, takut-takut kalau ia mengamuk lagi. Setelah saya yakinkan tidak akan terjadi apa-apa, ia pun berani membasuh muka temannya yang sakit tadi. Kemudian saya minta kepadanya untuk membangunkannya dengan memanggil namanya. Ia terbangun, dan heran kenapa orang ramai mengerubunginya. Yang lebih heran lagi ia melihat saya yang tak pernah sebelumnya masuk ke kamar itu.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya kemudian kepada temannya yang sudah mendekat kepadanya dan memeluknya.

Salah seorang menceritakan kejadiannya. Dia hanya menanggapi terheran-heran. Lalu saya sarankan ia untuk tidur dan meminta temannya yang lain ke luar kamar. Dia pun manut dan merebahkan diri, tidak lama kemudian Ia tertidur. Setelah menyelimutinya teman-teman yang lain keluar bersama saya.

Saya pun mendatangi kamar yang lain, di mana empat perempuan yang tengah kesurupan menunggu. Malam itu menjadi malam yang berat bagi saya. Akan tetapi Allah SWT benar-benar melihatkan kekuasaanNya dan membantu saya, terutama mu’jizat Al Quran Kalamullah yang menjadi syifa’ (penyembuh). Dengan membacakan ayat-ayat Allah SWT itu, Allah pun ridho dan mengeluarkan Jin yang merasuki tubuh perempuan itu. Subhanallah.

Menghadapi empat perempuan yang menangis-nangis tersedu-sedu itu, saya tidak berbuat banyak. Saya meminta segelas air putih dan membaca beberapa ayat pendek. Saya tidak meruqiah sepanjang ayat menghadapi Nur Hasanah. Di samping suara saya sudah serak karena terlalu diporsir mengdapi Nur Hasanah sebelumnya, saya yakin bahwa yang empat orang ini tidak separah teman sebelumnya. Alhamdulillah, Allah SWT pun menyadarkan mereka, setelah air putih itu membasahi muka mereka.

Mereka siuman, dan sisa air putih itu saya minta untuk diminumkan kepada mereka. Seperti teman sebelumnya saya minta mereka untuk tidur, karena tubuh mereka lemas habis dikuasai makhluk halus. Saya dan teman-temannya kemudian keluar kamar itu.

Teman-teman mereka yang sadar, berberapa laki-laki dan perempuan akhirnya berjaga-jaga di gang depan kamar. Tidak ada yang berani tidur setelah kejadian itu. Mereka takut kalau-kalau Nur Hasanah kembali lagi dan mengganggu teman mereka yang sedang tertidur.

Mereka pun meminta saya untuk tidak meninggalkan mereka. Karena hari sudah menjelang subuh, akhirnya saya memutuskan untuk duduk bersama mereka sambil menunggu adzan. Itulah pertama kali saya dan mereka duduk dalam suasana santai. Mereka menghaturkan terimakasih dan mengenalkan namanya satu per satu.

Setelah ngobrol ngalur ngidul, akhirnya kesampaian juga niat saya kemarin untuk menasehati mereka. Dan saya pun menceritakan keluh kesah masyarakat sekitar yang terganggu akibat perbuatan mereka selama ini. Jangankan manusia di alam nyata, jin pun seperti Nur Hasanah juga terganggu. Mereka terdiam dan dengan khusuk mendengarkan nasehat saya.

Malam pun merangkak pagi, dari mesjid-mesjid sekitar sudah mulai terdengar orang mengaji tanda sebentar lagi waktunya shalat subuh. Burung-burung peliharaan masyarakat sekitar mulai berkicauan. Saya pun berpamitan kepada mereka untuk bersiap pergi ke mesjid dengan sebelumnya meyakinkan mereka insya Allah tak terjadi akan apa-apa pada teman-temannya yang kesurupan. [Selanjutnya : Akhirnya Dia Masuk Islam]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*