Akhirnya Dia Masuk Islam

Panggil saja ia putri. Setelah melewati malam yang panjang dikuasai makhluk halus. Esok harinya badannya kelihatan lemas dan selalu kelihatan bermenung. Duduk sendiri dengan penuh tatapan kosong. Teman-temannya melakukan aktivitas seperti biasa. Akan tetapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Mereka yang selalu pulang malam, hari itu pulang lebih awal.
Sore itu, saya memberanikan diri untuk menghampiri Putri dan kawan-kawannya. Saya mengucapkan salam, mereka pun menjawabnya. Tak ketinggalan putri, sejenak membuyarkan lamunannya.

“Saya mau masuk Islam, Pak!”, tiba-tiba ia mengucapkan kata-kata yang mengagetkan saya dan teman-temannya.

“Apa motivasimu?” tanya saya balik.‘’Udah lama saya pikirikan, ‘’ lanjutnya.“Nggak boleh seperti itu, kamu harus berpikir lebih jauh dan sedalam-dalamnya. Karena ketika kamu mengucapkan duakalimat sahadat semuanya akan merubah cara hidup kamu?”

“Itu yang ingin saya tanyakan, Pak. Bagaimana syarat-syarat masuk Islam dan apa yang harus saya lakukan setelah itu,”

“Kalau ingin masuk Islam, syarat-syarat yang pertama adalah membaca melafalkan dua kalimat sahadat. Terlebh dahulu dengan mandi wajib yang diikuti wudu. Menutup auratmu.”

“Syarat yang kedua?”

“Syarat kedua ada saksi minimal 2 orang. Dan setelah mengucapkan sahadat itu, di depan saksi kamu sudah masuk Islam, selanjutnya ya kamu harus melaksanakan seluruh perintah Allah dan Rasulnya Muhammad SAW . Yang dapat kamu pelajari sesudah kamu memeluknya nanti. Dan yang paling penting kamu meninggalkan seluruh keyakinan sebelum kamu masuk Islam.”

“Ok, Pak!, tolong saya untuk dibimbing masuk Islam,” lanjut Putri.

“Benar sudah mantap, karena agama tidak boleh dipermainkan,” jawab saya.

***

Dia mendesak, saya masih ragu, yang terpikir oleh saya apa mungkin anak ini mampu melaksanakan Islam sebaik-baiknya dan mau mempelajarinya. Pasalnya, teman-temannya saja sudah seperti begitu kehidupannya. Mereka bergaul terlalu bebas dan hidup glamour yang di dalam Islam jelas diharamkan.

Masalah itu saya diamkan dulu, untuk sementara saya minta ia berpikir sematang-matangnya. Kalau dia sudah membuat keputusan, baru menghubungi saya kembali. Insya Allah saya akan membantu.

Lalu saya beralih ke topic lain. Dan memberikan beberapa nasehat kepada kawan-kawannya. Agar jangan lalai dari mengingat Allah SWT. Jangan terlalu asyik dengan hiburan, karena di situlah pintu masuk syaitan yang akan membahayakan kesehatan jiwa dan menyesatkan. Mereka manggut-manggut. Ada juga yang meneteskan air mata. Mungkin mereka menyesal apa yang telah mereka lakukan. Ya semoga saja Allah memberi petunjuk kepada anak-anak muda itu.

Hari berlalu, besok harinya ketika saya habis sarapan pagi, dan mencari angin ke teras depan rumah itu, saya dicegat oleh putri.

“Saya sudah putuskan, Pak.” Katanya.

“Saya benar-benar ingin masuk Islam, hati saya terus gundah kalau mendengar azan,” lanjutnya.

“Okelah kalau begitu, saya insya Allah Bantu, saya akan bicarakan dulu dengan Pak RT,” jawab saya.

“Trimakasih Pak,” jawabnya lagi.

Sejenak saya tinggalkan rumah kos itu, saya menuju rumah ibu ustaz yang memimpin majelis ta’lim di RT setempat. Setelah berbincang beberapa saat ia menyambut gembira maksud itu.

“Baiklah saya akan menyampaikan kepada sesepuh sini, baik RT, maupun ustadz yang dituakan di sini. Kapan kita langsungkan acaranya?” tanya ustadzah.

“Kalau itu saya serahkan kepada ibu dan majelis ta’lim di sini.” Jawab saya.

“Baiklah, nanti kalau kami sudah siap, akan kami beritahu,” ungkapnya.

“Baik, bu. Saya pamit dulu.” Jawab saya sambil segera meninggalkan rumah bu Ustadzah.

Matahari tidak begitu terik namun cahayanya tetap menerangi kampung Cempaka waktu itu.. Angin berhembus tenang. Daun pepohonan menunduk seakan bertasbih kepada Allah SWT. Dengan hati gembira saya sampaikan kepada Si Putri, bahwa acara pensahadatan akan segera digelar dan persiapannya tengah dilakukan Bu Ustadzah yang rumahnya persis bearada di depan rumah kost itu. Matanya cerah dan air muka melihatkan rasa senang, seraya mengaturkan terimakasih.

Saya pun berkata kepada teman-temannya untuk mengajarkan Si Putri mandi wajib. Dengan terlebih dahulu wuduk dan setelah mandi wudu lagi. Niatkan dengan mandi itu semua keyakinannya selama ini hapus dari ingatan dan hatinya. Dan niatkan pula dengan hati yang ikhlas dan suci untuk menyambut agama barunya. Serentak mereka pun berhamburan mengajak Si Putri mandi. Dengan gembira teman-temannya ikut membantu dan menghantarkan teman-temannya ke keyakinan baru. Ada yang membawakan pakaiannya, ember sabunnya dan pakaiaan gantinya. Saya hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

Hanya beberapa jam saja, kemudian Bu Ustadzah menyempatkan mampir ke kos kami. Dia mengatakan bahwa segala sesuatunya sudah siap. Acara akan diadakan di rumahnya. Dan serentak kami turun dan menuju rumah Bu Ustdzah. Masa Allah, semuanya benar-benar sudah siap. Di ruang tamu rumah Bu Ustadzah sudah ada meja dan lengkap dengan map dan beberapa kado. Kayak orang mau nikahan. Sementara itu sudah hadir di sana sesepuh kampung tersebut, ada pak RT, Pak Kiyai yang akrab dipanggil Abah dan ibu-ibu majelis ta’lim. Kami disambut dengan gembira.

Setelah beberapa saat basa-basi dan perkenalan, akhirnya sampailah pada acara inti yang membuat air mata semua orang menetes. Si putri mengucapkan dua kalimat sahadat. Lancar dan tegas ia mengucapkannya, disaksikan seluruh pengunjung..Diiringi dengan nasehat dari sang Kiyai. Terkakhir Si Putri diberikan bukti pensahadatan. Yang menurut kiyainya nanti bawa ke Depag untuk diganti dengan sertifikat mualaf. Si Putri mengambil lembaran itu dengan senang. Ia merasa baru dilahirkan kembali. Begitupun pengunjung sangat haru mengikuti tahap demi tahap pensahadatan itu.

Senja merekah di Cempaka. Magrib hampir tiba. Insya Allah malam pun menyambut. Esok harinya merupakan hari yang baru bagi Putri. Dia sudah menjadi muslimah. Semoga saja ia bersungguh-sungguh dengan keyakinannya yang baru. Begitupun teman-temannya mudah-mudahan mengambil kisah Putri menjadi hikmah untuk kehidupan yang baru. Sebelum membubarkan diri, Bu Ustadzah dan ibu-ibu majelis ta’lim memberikan pelukan hangat kepada Putri. Mereka juga memberikan hadiah al Quran, perlengkapan shalat dan pakaian muslimah. Saya hanya tersenyum melihat peristiwa itu. Azan magrib pun berkumandang saya semuanya bubar dan memulai kembali kehidupan Islam masing-masing.

5 Comments

  1. Insya Allah ini kisah nyata. Saya hanya berselindung kepada Allah SWT dari kekurangan saya menyampaikan. Mudah-mudahan saja cerita ini menjadi inspirasi untuk perbaikan iman dan taqwa kau muslimin yang diberikan kesempatan Allah SWT membaca tcerita ini. Amin.

    Bagi Si Putri pun hanya satu harapan saya, semoga Allah SWT selalu membimbingnya, sebagaimana Ia telah membimbing Putri menerima tetesan hidayah yang sudah dipancarkan-Nya kedalam hati Si Putri, meski kehidupan liar mengepungnya. Allahu ‘alam bi sawab.

  2. Subhanallah, sungguh luar biasa anda pak.

    Jadi iri saya, semoga terus berlangsung. Dan jangan lupa untuk terus difollow agar tidak hanya sekedar label, tapi menjadi mukminah sejati

    Wasalam

  3. Allahlah yang luar biasa. Kalau Ia menunjuki seseorang. Tak akan ada yang mampu menyesatkan. Kalau Ia menyesatkan seseorang tiada pula yang mampu menunjuki selain Ia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*