Menghidupkan Surau yang Mati

Pertengahan tahun 2005, langit mendung di Tanah Abang. Wajah pedagang kelihatan murung. Pasar Blok C s.d E di Tanah Abang akan dibongkar dan pihak pengelola akan membangun pertokoan yang modern menyusul Blok A yang  telah sukses mengubah pertokoan tradisional menjadi maju. Dampak yang paling terasa dengan modernisasi pasar itu adalah tersingkirnya para pedagang tradisional. Pembaruan Pasar Tanah Abang terasa penuh intrik politis dan seakan dipaksakan, karena sejalan dengan berakhirnya masa jabatan seorang gubenur.

Sahabatku yang berjualan di sana ikut terkena imbas. Ia yang mencoba peruntungan dengan berdagang nyambi kuliah S2 di Universitas Islam Jakarta mendadak tak berdaya. Perputaran uang dan utang yang biasa dilakoni sebagaimana pedagang lainnya terasa menjadi beban. Kuliahnya terbengkalai, ia pun kehilangan toko tempat ia berjualan. Untuk mencoba beralih ke toko lain dengan biaya kontrak yang mahal atau membeli Rp1 juta per cm seperti harga di Blok A waktu itu, jelas tidak punya kemampuan.

Sama halnya dengan temanku itu, bagai efek domino atau biliar, Pasar Tanah Abang yang dibongkar aku juga kena pantulannya. Aku yang berkerjasama dengan pedagang untuk membangun sebuah media promosi garmen dan textil, akhirnya terpental juga. Padahal ketika itu, aku dan beberapa utusan pedagang sudah berpomosi ke Kuala Lumpur dan menjalin kerjasama dengan pedagang negeri jiran itu. Kami sepakat untuk saling menjualkan produk andalan masing-masing. Tapi apadaya, tidak lama setelah perjanjian kerjasama itu ditandatangani, politik di tanah air mendadak berubah. Pasar Tanah Abang dibongkar. Tanah Abang yang tadi mendung sekarang diguyur hujan deras yang pedagang sendiri tidak tahu kapan berhentinya.

Pedagang tidak lagi memikirkan media promosi, mereka memilih memikirkan di mana ia berdagang setelah ini. Aku pun harus banting stir. Sejalan dengan itu usahaku yang lain  di bidang advertising juga mulai goyah. Nilai tukar dolar  terhadap rupiah yang menggila dan harga BBM yang menanjak membuat klien banyak melakukan efisiensi. Tidak banyak yang dapat diharap dari situasi itu. Biaya operasional mulai tidak tertutupi. Akhirnya usahaku pun bangkrut dan tutup.

Setelah menyelesaikan hutang piutang yang tersisa. Untuk sementara  aku memutuskan untuk pulang kampung bersamaan dengan rencana walimahan adikku di Kampung. Setali tiga uang, di Jakarta selesai di kampung ada walimahan adik, membuat keputusan pulang kampung pun menjadi kuat.

Bermodal dengan dana yang tersisa masih dapatlah tiket pesawat yang mengantarku ke ranah bunda. Kepulanganku untuk mengobati luka dan seluruh persoalan hidup yang dilalui di Jakarta. Untuk sementara kulupakan soal pergulatan dunia ini, perenunganku membawa pada suatu hadist yang kubaca. Tidak ada ketenangan tanpa ada kedekatan dengan Allah SWT. Moment pulang kampung adalah moment yang tepat untuk itu. Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal Putri dan kawan-kawannya, semogga sepeninggalku mereka selalu meningkatkan imanya pada Allah SWT.

***

Di kampung, aku ingat surau tepat aku belajar mengaji di masa kecil. Di sanalah aku diterpa dan peletakan dasar agama setelah keluarga. Sayang setibaku di sana, ku dengar dari bebera orang tua, surau itu sudah lama mati. Sudah 2 tahun tidak ada aktivitas pengajian dan belajar Al Quran. Sehari-hari hanya beberapa orang tua yang selalu setia melaksanakan shalat magrib, isya dan shubuh di surau itu. Kebanyakan diantara mereka wanita. Syukur-syukur, kalau ada laki-laki  yang hadir di waktu-waktu shalat sehingga mereka bisa shalat berjamaah. Tapi tak jarang mereka shalat sendirian

Karena profesi warga kampungku mayoritas petani, aktivitas di Surau hanya dapat dilaksanakan malam hari plus subuh. Siang hari warga berada di ladang masing-masing. Dimulai dari azan magrib dan menjadi imam. Setelah shalat magrib para jamaah ternyata kangen juga untuk mendengar cerita Jakarta. Banyak pertanyaan mereka tentang pergulatanku di Jakarta. Tak banyak pertanyaan itu yang kujawab. Karena akan membuka lembaran kesedihan. Aku lebih mengarahkan bagaimana mensyiarkan surau kembali.

Antara magrib dan isya, aku isi dengan ngobrol bagaimana mengisi sisa umur yang diberikan Allah SWT dengan amal ibadah yang disukai Allah SWT. Maklum jamaahnya semuanya orang-orang yang telah berumur dan dalam hubungan kekerabatan, mereka semua masih ada bertalian darah denganku.  Aku sangat kasihan kalau nenek-nenek dan kakek-kakek jamaah surau itu, termasuk juga diriku, kalau-kalau dipanggil Allah SWT menghadap-Nya malah membawa amal yang pas-pasan. Apalagi sebagai seorang muslim dituntut untuk selalu menuntut ilmu selagi nyawa belum sampai di kerongkongan. Usia tua bukanlah halangan untuk menambah ilmu.

Apalagi amalan Islam yang kita lakukan saat ini terkadang hanya apa yang kita dapat dari kecil, belum ada update terbaru. Padahal ada diantaranya pengamalan itu melenceng dari ajaran sebenarnya (bi’dah) meski itu terlihat baik. Sangat sia-sia kalau kita beramal tapi tidak menurut tuntunan Rasulullah SAW. Bisa jadi seluruh amalan yang kita lakukan ditolak atau sia-sia. Lebih parah lagi kalau Allah SWT mengklaim kita membuat agama baru di dalam Islam. Hal itu karena kita beramal melebih-lebihkan atau mengurangi tidak mengikuti contoh dari rasulullah. Karena kita hanya berpedoman dari uraian guru-guru kita yang selama ini mengajarkan kita hanya secara lisan tanpa membacakan hadist yang shahih. Nauzubillah.

Alasan itulah, sembari berlindung pada Allah SWT dan memohon petunjukNya; aku mencoba menghidupkan pengajian setelah magrib sampai isya dan setelah shubuh sampai duha di surau yang didirikan di atas tanah wakaf kakekku. Pengajian sederhana yang kuhidupkan menjadi daya tarik tersendiri, lambat laun jamaahnya bertambah yang tadinya dihadiri 4 orang jamaah tua-tua sampai akhirnya surau itu memiliki 30 jamaah. Meski mayoritas jamaah berusia lanjut, alhamdulillah ada beberapa anak muda yang urung juga menjadi jamaah meski tidak tetap. Begitulah suasana dari ke hari.

Pagi itu, setelah pengajian shubuh dan doa penutup majelis dilafalkan. Kami keluar dari surau dengan hati yang gembira. Maha Suci Allah, matahari yang terbit diufuk timur dan beberapa awan yang bergelantungan di langit biru membuat susasana pagi  di kampungku cerah sekali. Gunung dan bukit yang mengitarinya kelihat jelas, sejelas tujuanku pulang kampung. Dari sana aku hanya bisa berdoa agar mendung di Tanah Abang cepat mereda. Wallahualam bisawab.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*