Jamaah Surau Kesurupan

Seperti biasa, ba’da shalat shubuh setelah berdoa secara masing-masing, aku memberikan wejangan singkat tentang beberapa pemahaman ayat al Quran. Dilanjutkan dengan mengulang hapalan zikir pagi dan sore Rasulullah yang terhimpun dalam kitab Al Matsurat Hasan al Banna.

Semula aku tidak mengira, kalau ibu-ibu dan bapak-bapak yang terbilang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek itu akan mampu menghapal zikir-zikir itu. Mulai dari menghapal ayat-ayat pendek yang dianjurkan sampai doa-doa zikir Rasulullah pagi dan petang itu. Allah SWT melihatkan kebesaran-Nya –meski sudah nenek-nenek dan kakek-kakek– dalam waktu 6 bulan dengan cara diulang setiap subuh akhirnya semua jamaah berhasil menghapalnya.

Suatu kali ketika ketika para jamaah mengulang ayat-ayat pendek dan Almatsurat itu, mendadak ada seorang jamaah perempuan yang kesurupan. Jamaah lain mendadak heboh, dan aku pun mendekatinya. Tubuhnya kejang dan dari mulutnya keluar sumpah serapah. Dengan mata merah dan suara yang berubah menjadi besar ia menunjuk padaku dan memintaku berhenti membimbing jamaah menghapal al Quran dan doa-doa itu.

Ku tak pedulikan apa ucapannya. Dengan memohon perlindungan Allah SWT aku memegang kepalanya dan membacakan kembali ayat-ayat al Quran yang tadi diulang jamaah secara bersama. Kepada jamaah yang lain aku juga meminta untuk ikut membacakan.

Dengan izin Allah SWT melalui mulut wanita yang kesurupan itu jinnya berbicara. Ia mengaku kepanasan dengan bacaan dan zikir yang dibaca berulang-ulang itu. Ia tidak suka dan benci dengan bacaan itu.

Dari dialog yang panjang, akhirnya ia mengaku disuruh oleh seorang dukun di kampung itu. Katanya Dukun itu tidak senang dengan kehadiranku di kampungku sendiri. Ia merasa terganggu, karena disetiap kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT –selama aku di kampung– untuk memberikan khutbah jumat dan ceramah, aku selalu mengajak orang untuk meninggalkan praktik perdukunan dan tidak berobat ke dukun. Lebih baik berobat ke mantri di Puskesmas setempat. Nauzubillah!

Kehadiranku di kampung dianggap para dukun sebagai ancaman. Padahal aku tidak pernah bermusuhan dengan mereka. Secara sosial mereka adalah warga kampungku dan terkadang mereka masih dalam lingkup keluarga dan margaku. Akan tetapi memang secara akidah, aku tegas tidak setuju dengan cara mereka yang klenik itu. Karena Allah SWT tegas-tegas melarangnya dan tidak diampuni dosa orang-orang yang menjadi dukun dan berobat ke dukun (Al Quran Surah An Nisaa’ Ayat 116).

Jin adalah pembohong dan aku tidak percaya dengan segala ucapannya. Bisa jadi ia hanya mengadu domba dan memfitnah. Meski ketika itu ia bersumpah dengan nama Allah SWT. Dengan terus berlindung pada Allah SWT atas kejahatan mahkluk yang diciptakan-Nya, aku menyampaikan ajakan kepada jin itu untuk keluar dari tubuh wanita itu.

Karena ia membandel dan tetap bersikeras untuk tetap berada dalam tubuh wanita itu, aku dan jamaah terus membacakan Al Quran. Akhirnya ia pun menyerah. Dan aku mengajaknya untuk masuk Islam secara kaffah, meski sebelumnya ia mengaku sudah Islam tapi tidak pernah melakukan syariat Islam seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ia yang mengaku bernama Jin Nasir itu kepadanya akupun bertanya, apa ia kenal dengan ulama jin di sekitar tempat ia tinggal. Ia menjawab ia kenal Jin Daud dan Jin Hamid –masha Allah hanya Allah SWT yang tahu– yang tinggal di Surau itu. Keduanya adalah Jin Muslim yang katanya selalu hadir di majelis kami. Kemudian aku minta Jin Nasir memanggilkan Jin Daud untuk berbicara denganku.

Tidak lama Jin Daud datang dan mengucapkan salam dan kami jamaah Surau menjawab salam itu, ia pun memanggilnya dan dengan izin Allah SWT aku meminta jin Daud untuk menggajari Jin Nasir kembali ke jalan Islam yang benar dan meninggalkan membantu dukun atau tukang sihir di kampung itu.

Jin Daud berterimakasih sudah membantu menyadarkan saudara sebangsanya, dan ia juga meminta aku tidak berhenti menyampaikan dakwah di Surau itu. Ia dan kafilahnya telah mengajak kafilah lainnya untuk ikut bersama mendengarkan dakwah dan penghapalan zikir padi dan sore Rasulullah SAW di surau itu. Subhanallah.

Setelah mengucapkan salam, Jin Daud dan Jin Nasir kembali ke alamnya. Sungguh Maha Besar Allah SWT yang telah melihatkan tanda-tanda kebesarannya kepada kami. Setelah kepergiannya perempuan tadi sadar dan kaget melihat ia dikerumuni jamaah.

Setelah itu aku bertanya kepada perempuan itu, apa ia memakai jimat? Ia menjawab, “iya”. Ternyata di pinggangnya terlilit jimat dari kain hitam, yang katanya, dia minta ke dukun untuk penangkal kejahatan. Karena sudah berusia mendekati 40 tahun ia belum juga mendapatkan jodoh.

Setelah itu aku memohon petunjuk Allah SWT dan menjelaskan jimat tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Karena jimat bukanlah Tuhan tidak akan memberikan perlindungan maupun jodoh. Dibakar pun jimat itu tidak melawan. Rasulullah SAW pun tidak pernah mengajarkan hal yang seperti itu. Cukup Allah SWt saja jadi pelindung dan tempat meminta (Al Quran Surah Al Baqarah Ayat 255-256).

Kalau ingin sesuatu, kataku, mintalah langsung pada Allah SWT. Sebagai Illah yang kita sembah Allah SWT akan mengabulkan setiap permintaan kita yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh diikuti dengan ikhtiar (Al Quran Surah Al Baqarah Ayat 186). Itu janji Allah SWT dan Allah SWT tidak pernah ingkar akan janjinya.

Atas petunjuk Allah SWT, akhirnya perempuan itu menyerahkan jimat itu kepadaku. Dan ternyata jamaah lain ada pula yang memakainya dan ada yang mengaku menyimpan di rumah. Di saat itu juga semuanya dengan ikhlas mengambil pulang dan semua jimat diserahkan kepadaku untuk dimusnahkan. Mereka takut memusnahkan sendiri. Akhirnya jimat-jimat (yang sudah jadi berhala mereka) kami musnahkan di halaman Surau dengan cara membakar dan abunya kami hanyutkan ke air yang mengalir di depan surau itu.

Alhamdulillah, Allah SWT telah memberi petunjuk kepada mereka. Bahwa tidak ada tempat berlindung dari kejahatan makhluk lain kecuali hanya Allah SWT. Bahwa Allah SWT-lah Raja dari keghaiban dan tempat meminta dari apa yang kita butuhkan, karena kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Dan kalam Allah SWT tidak ada keraguan kebenarannya menjadi petunjuk bagi orang yang taat pada Allah SWT (Al Baqarah Ayat 2).

Karena matahari sudah mulai menanjak, kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega. Semoga Allah SWT selalu menetapkan petunjuk itu di hati kami dan menambahkan perlindungan-Nya dan keimanan kami kepada-Nya. Amin! Wallahu’alam Bi Sawab.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*